Komentar Aku tentang Novel "Start Again"
Judul novel, Start Again. Novel ini adalah salah satu dari karya penulis Seplia. Novel ini tebalnya 294 halaman. kalau menurutku, novel setebal ini tidak terlalu tebal, apalagi tulisan novel menggunakan font size yang cukup besar. Di novel ini ada beberapa nama tokoh yang muncul. Tokoh utamanya Lis dan Darren, sementara ada beberapa tokoh lain yang mendukung cerita mereka berdua, diantaranya ada tiga teman kerja Lis: Alesa, Seya, dan Frina, teman audiobook: Seon, Mas Rega, dan Mba Naya, resepsionis galerinya Darren: Mba Kali, teman New York nya Darren: Vio, bosnya Seon dan ponakannya Mba Kali sekaligus fans-nya SIL: Luh.
Jujur saja awal aku memilih novel ini karena judulnya yang cukup punya positif vibe untukku. Start again, memulai kembali. Aku kira buku ini akan menceritakan kisah "memulai kembali"-nya kisah percintaan Lis dan Daren yang telah berakhir dan akan di akhiri dengan Happy Ending dengan bersatu kembalinya mereka di akhir cerita. Bukankah itu mainstream yang biasa ada di novel-novel romans seperti ini? Ternyata oh ternyata. Mba Seplia, si empunya karya menyajikan plot twist yang bikin aku ikutan berduka bersama Lis.
Novel ini memang mengisahkan mulainya kembali hubungan mereka setelah kisah percintaan yang telah kandas di masa lalu. Mulai kembali di sini bukan berarti kembalinya status mereka sebagai pasangan kekasih tetapi kembalinya hubungan baik mereka setelah mereka berpisah walaupun mereka telah memutus ikatan percintaan mereka sebagai pacar. Sikap Darren yang pengayom dan hampir mirip seperti seorang pacar, membuat lis merasa pacarnya telah kembali dan Darren akan kembali menjadi kekasihnya, menikahinya dan seterusnya sampai ke ending yang bahagia seperti di novel romansa kebanyakan. Namun sayangnya, apa yang disangka tak selalu sama dengan realita yang ada. Pertanyaan yang ditanyakan Darren saat ia pergi ke New York pada Lis benar-benar ia lakukan. Ia menanyakan pada Lis apakah mereka bisa tetap berteman lagi setelah Darren kembali dari New York suatu hari nanti. Lis pun meng-iya-kan pertanyaan itu. Memang Darren benar, Lis pun tidak salah. Tetapi menurutku, yang membuat Darren terasa brengsek adalah ia mengatasnamakan kata "sahabat" diantara mereka untuk tetap berbuat baik (yang menurutku berlebihan) sampai Lis merasa kebaperan atas kebaikan Darren. Entahlah, di sini penulis kurang menggambarkan bagaimana eratnya kisah persahabatan mereka. Kalau memang kisah pertemanan atau persahabatan yang benar-benar apa yang dituliskan penulis di ceritanya. Menurutku, Lis dan Darren bukan dalam hubungan sahabat atau pertemanan yang benar benar sahabat. Maksudku ya mereka hanya berteman biasa. Toh saat Darren ingin menemui Lis, Lis pasti akan mengiyakan dan menyanggupi pertemuan itu karena Lis memiliki rasa dengan Darren. Love made someone blind. Terjun ke jurang, terjun deh. Sebaliknya saat Lis ingin bertemu dengan Darren, apakah Darren akan langsung menemui dan memenuhi permintaan Lis? Engga kan? Ada saatnya Lis menunggu Darren. Yang tambah membuat aku kesal dengan Darren adalah saat ia meng-upload gambar denga quote, "balikan sama mantan?" di akhir cerita. Aku turut merasakan apa yang dirasa Lis. kalaulah memang Darren adalah seorang sahabat baik, Darren tentu akan menjaga perasaan Lis. Bukannya bertingkah seperti itu, seperti mengejek. Entahlah, aku kesal juga dengan dua tokoh utama ini. Yang satu kebaperan, yang satu kecuekan.
Dari novel ini, aku cukup berempati dengan Lis. Ada saat-saat aku berkata, "Aku juga" saat membaca novel ini. Lis tidak punya cita-cita yang jelas ingin jadi apa. Lis belum memiliki mimpi pasti apa yang sebenarnya ingin ia lakukan. Lis dengan kepribadian yang tidak ingin mengumbar-ngumbarkan dirinya di balik ketenaran penulis puisi SIL, dan kegalauannya terhadap masa depan dan mimpinya. Walaupun Lis menyembunyikan identitasnya sebagai SIL, Lis memiliki kepribadian yang supel, itu terbukti dari mudahnya ia bergabung dan berteman dengan tim audiobook, Seon, Mas Rega, dan Mbak Naya serta bagaimana ia dengan mudahnya ia membagi cerita cinta pahitnya bersama Darren. Lis juga pemberani. Ia berani menanyakan kepastian nasib hatinya pada Darren. Darren? Lupakan dia. Aku tidak suka dengannya. Dia makhluk palik tidak peka seper-novelan yang pernah aku baca.
Maaf aku terlalu bias dan terlalu terbawa suasana novel ini dan hal ini cukup membuktikan hebatnya Mba Seplia kan? Sebagai pengarang, Mba Seplia bisa membuat pembacanya masuk terserap ke dalam alur ceritanya. Bahasa yang digunakan sangat ramah dengan kehidupan sehari-hari. Jadi tak heran kalau aku terbawa seperti realita. Mba Seplia tidak mengecewakan aku baik di cerita ini atau di cerita sebelumnya. Ingat novelnya yang berjudul "Three Sisters"? Di novel itu, aku malah sampai menangis dibuatnya.
Terima kasih mbak atas karyanya.

Comments
Post a Comment